Aliran filsafat Rekontruksionalisme
Filsafat Rekonstruksionalisme
Konsep Aliran Rekonstruksionalisme
Aliran
rekonstruksionalisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamat dunia merupakan tugas
semua umat manusia atau bangsa. Oleh karena itu pembinaan kembali daya
intelektual dan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia melalui
pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang benar demi generasi sekarang
dan generasi yang akan datang sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan
umat manusia.
Aliran ini
memiliki persepsi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang
diatur, diperintah oleh rakyat secara demokratis dan bukan dunia yang dikuasasi
oleh golongan tertentu. Sila-sila demokrasi yang sungguh bukan hanya teori
tetapi mesti menjadi kenyataan sehingga dapat diwujudkan suatu dunia dengan
potensi-potensi teknologi, mampu meningkatkan kualitas kesehatan, kesejahteraan
dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit,
keturuanan, nasionalisme, agama (kepercayaan) dan masyarakat yang bersangkutan.
Rekonstruksionalisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada
tahun 1930.George counts sebagai pelopor rekonstruksionisme dalam publikasinya
”dare the school build a new sosial order” mengemukakan bahwa sekolah akan
betul-betul berperan apabila sekolah menjadi pusat bangunan masyarakat secara
keseluruhan, kesukuan (rasialisme). Masyarakat yang menderita kesulitan ekonomi
dan masalah sosial yang besar merupakan tantangan bagi pendidikan untuk menjalankan
perannya sebagai agen pembaharu dan rekonstruksi sosial daripada pendidikan
hanya mempetahankan status dengan ketidaksamaan dan masalah-masalah yang
terpendam didalamnya.
Kelebihan dan Kekurangan Aliran Rekonstruksionalisme
-
Kelebihannya:
a. Membangkitkan kesadaran para
peserta didik tentang masalah sosial, ekonomi dan politik yang dihadapi umat
manusia dalam skala global, dan mengajarkan kepada mereka
keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk mengatasi masalah tersebut.
b. Kurikulum berisi mata-mata pelajaran yang berorientasi pada
kebutuhan-kebutuhan masyarakat masa depan. Kurikulum disusun untuk menyoroti kebutuhan akan beragam reformasi
social
c. Anak, sekolah, dan pendidikan itu sendiri dikondisikan oleh kekuatan
budaya dan sosial.
d. Rekonstruksionisme menekankan pada pengalaman yang dimiliki para siswa
dengan interaksi ekstensif antara guru dan siswa dan diantara para siswa itu
sendiri.
e. Melalui suatu pendekatan rekonstruksionis sosial pada pendidikan, para
siswa belajar metode-metode yang tepat untuk berhadapan dengan krisis-krisis
signifikan yang melanda dunia.
-
Kelemahannya:
a. Karena tujuan sekolah adalah mengembangkan rekayasa sosial, beban dan
tanggung jawab sekolah sangatlah berat.
b. Tawaran pemikiran yang direkomendasikan oleh rekonstruksionisme seperti
keterlibatan aktif dunia pendidikan pada dunia politik akan berdampak buruk
pada aktivitas pendidikan yang secara akdemik terlalu sakral yang kemudian
untuk dicemari oleh intrik-intrik poloitik yang kotor dan menghalalkan segala
cara untuk memuaskan nafsu kekuasaan sebuah kelompok politik tertentu.
c. Rekonstruksionisme bersifat makro, dan kurang menitikberatkan pada
individu, padahal pendidikan seharusnya bertujuan untuk membangun
kepribadian yang didalamnya terdapat kebagusan akal budi dan moralitas individu
(ahlak). Pendidikan tidak hanya ingin melahirkan para aktivis sosial, akan
tetapi juga manusia yang bermoral, berkarakter, dan memiliki spiritualitas
cukup.
d. Gagasan-gagasan yang ada di dalam rekonstruksionisme sangat teoritik dan
cenderung tidak realistik. Karena gagasan seperti pembentukan tatanan sosial
baru yang sangat ideal sebagai solusi atas bencana kemanusiaan yang terjadi,
ibarat “mimpi disiang bolong”, sebab upaya tersebut seolah mengabaikan
kondisi rill umat manusia saat ini.

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda