filosofi padi
Padi
di sawah yang mendekati masa panen akan terlihat merunduk (tidak tegak) karena
beban bulir padi yang berisi. Dengan kata lain, padi yang semakin berisi akan
semakin merunduk. Dalam pergaulan hidup, ketika seseorang kebetulan dianugerahi
Allah kepandaian/ilmu yang mumpuni, kekayaaan, dan pangkat kedudukan, hendaklah
meniru padi, yaitu bisa bersikap rendah hati. Rendah hati berarti bukan sombong
dan pongah memamerkan kepandaian atau ilmunya sehingga terdapat kecenderungan
bahwa ia adalah yang paling pandai. Orang yang demikian akan selalu meremehkan
yang lain dan sulit menghargai orang lain karena ia selalu merasa paling unggul
di dunia ini. Sikap demikian itu disebut sikap yangadigang, adigung, adiguna,
yang kurang lebih berarti mentang-mentang kaya, mentang-mentang berkuasa,
mentang-mentang kuat. Rendah hati di dalam filosofi Jawa adalah sikap andhap
asor, yaitu sikap merendah tanpa menghilangkan wibawa.
Ketika
berilmu tinggi dan mumpuni hendaklah seseorang tidak sombong (kumalungkung)
atau bahkan membodohi serta mencederai orang lain. Kekayaan hendaklah tidak
menjadikan seseorang pelit dan serakah. Ibarat minum air samudra semakin lama
akan semakin terasa haus, tanpa batas. Sudah ada beberapa peristiwa di tanah
air yang melambangkan sikap seperti ini. Tapi, toh akhirnya terlihat betapa
serakah dan melanggar aturan moral dan agama. Begitu pula dengan masalah
pangkat dan kedudukan. Bila Allah menganugerahkan derajat tinggi dengan
menduduki suatu jabatan penting, hendaklah seseorang tidak menyalahgunakannya.
Justru bersikaplah yang amanah dan kembalikanlah hak-hak serta manfaat dari
perolehan kedudukan tersebut kepada kemashlahatan orang banyak. Menjadi
pemimpin hendaklah tidak memiliki sifat murka, lupa daratan, dll. Bila ingin
dihormati maka menghormatilah.

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda